Minggu, 04 Juli 2010
Selasa, 29 Juni 2010
Senin, 28 Juni 2010
Gotic Doll #1 ... Girl Presented
"Gotic Doll #1 ... Girl Presented"40 x 60 cm
Acrylic on Canvas
2010
PR si Sum...
Tak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi saat tak sabar menunggu esok hari melihat dia yang terlambat menuju tempat aktifitasnya dengan dandanan yang kelewat menor, dada yang berdegup kencang dan desiran darah yang terasa menyejukkan melihat gerak-geriknya walau hanya dengan melirik demi mempertahankan ego, saat melihat dia marah dengan wajah yang terkumpul di tengah dan kita hanya bisa tersenyum yang membuatnya tambah marah saja, atau saat kau tahu jumlah tahi lalat di punggung depan dan belakangnya, ataukah banyaknya jumlah mobil yang terparkir di depan jalan pekarangan tetangga saat hajatan dan baju yang longgar untuk menutupi perutnya yang buncit agar tamu yang tahu, tidak tahu, bahkan tidak mau tahu menganggapnya baik-baik saja, atau sendau gurau bapak-bapak muda yang ingin memiliki istri kedua padahal dalam hatinya dia benar-benar menginginkannya.
Satu yang menjadi misteri tentu saja ada saat manakala segala sesuatunya dipertemukan dan dipisahkan karena dalam hidup kita memiliki pilihan tanpa paksaan. jadi memilihlah, berbanggalah dan jangan sesali pilihanmu karena pemilu masih lima tahun lagi. Banyak yang bisa ter-atau-kan dari berjuta legenda panjang hubungan antara perempuan dan lelaki, sebanyak kita melukai dan dilukai pasangan kita hingga kita dicap berkhianat, karena menghianati atau dikhianati batasnya begitu tipis, setipis baju model iklan sabun di tv. Bahkan saat ujung maut memisahkan, kita tidak butuh lagi apa artinya kawin karena sejak pertama kali dia membalas sms pulsa terakhir yang terkirim, kau tahu itulah pasanganmu tak peduli benar atau salah, atau sepasang kakek nenek yang memaknai kawin dalam segelas teh panas di senja hari, atau saat pak Habibie menangisi pemakaman istri tercinta bu Ainun. Seperti Surtikanti yang memilih Karna bukan karena ia sang adipati, panglima perang, atau bahkan putra radheya sang supir kereta, tapi karena memang dia memilihnya.
Salam
Kamis, 24 Juni 2010
Hot Omelet
60 x 40 cm
Acrylic on Canvas
2010
Perempuan dengan segala keistimewaannya telah sejak awal menjadi gender pendamping yang dalam setiap masa melakoni porsinya. Benarkah itu? Ah, para pemuja perempuan, pemerhati perempuan, bahkan para anti perempuan yang notebene dilahirkan dari rahim perempuan, dan tentu saja perempuan itu sendiri tak akan ada habisnya mewacanakan tentang keistimewaan sekaligus segala kekurangan perempuan. Wah, perempuan terus… Setidaknya terdapat istilah yang dapat mejembatani dan menjadi salah satu fase dalam legenda panjang hubungan antara perempuan dan lelaki yaitu kawin.
Selama ini kita mengenal istilah kawin sebagai proses pemaduan dan penggabungan sifat-sifat untuk mewariskan ciri-ciri suatu agar tetap lestari setidaknya secara harfiah maupun nilai-nilai sosial di lingkungannya, tak perlu berpanjang lebar juga karena dalam fase tertentu segala sesuatunya teralami sendiri sebagaimana manusia terciptakan dilengkapi dengan jiwa dan hasratnya dan lingkungan memberi koridor beserta segala aturan, sangsi, gossip, kasak-kusik, sindiran, cibiran yang pada tahap-tahap tertentu sama sekali tidak berguna. Atau akankah kita mau memaknai kawin yang juga digunakan sebagai istilah hubungan seksual antara dua ekor hewan dengan segala laku dan gayanya, ha2. Lantas untuk memperoleh esensi yang selama ini dicapai pada tahapan tertentu banyak cara yang bisa digunakan. Cerita menjadi salah satu cara yang dapat diuraikan karena ketidakbutuhan wacana teoritik tentang kawin itu sendiri, paling tidak menjadi salah satu sudut dalam melihat berjuta kisah perjalanan hubungan antara perempuan dan lelaki.
Mbah Kawi dan Istrinya…
Pada suatu sore, tersebutlah seorang kakek bernama mbah Kawi sedang duduk di kursi licak dari bambu di depan rumahnya. Ia baru saja melepas anak cucunya yang selesai menjenguk. Sekali-kali ia menengok ke jendela terbuka sehingga dapat dilihatinya istri yang terbaring karena sudah tiga bulan sakit karena usia tuanya. Meski sakit ia masih membuatkan segelas teh dan mengantarkan ke depan. Mbah Kawi yang tahu istrinya tertatih-tatih menghantarkan teh sama sekali tidak melarang istrinya tersebut meski hatinya ingin sekali, dan seperti biasa ia nikmati teh itu hingga dingin berampas. Setelah malam menjelang si kakek merapikan selimut istrinya yang telah tertidur duluan untuk kemudian ia berbaring di sampingnya…
Saat sinar pagi nenembus atap genteng, membangunkan si nenek untuk segera ke dapur, tetapi ia teringat kalau kayu bakarnya telah habis dan beranjak membangunkan mbah Kawi agar pergi mencari kayu bakar. Ia menarik selimut si kakek tapi tidak mau bergerak… saat di sentuh tubuhnya ternyata dingin… saat diguncang tubuhnya ternyata sudah kaku…
Konon menurut tetangga belum ada tujuh hari kematian mbah Kawi, sang istri juga menyusul…
Salam



